Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2014

Dalam Tawanan Gerimis


Bayangan buram, menggilas pikiranku. Hancurkan hati bagai batu, dengan air yang menyapu selembut bulu. Bukan oleh air hujan atau gerimis seperti yang di turunkan langit saat ini , pun bukan oleh  air kran yang ada di westafel rumahku. Tapi oleh air mata yang senantiasa keluarkan dukanya saat aku meratap pilu oleh bayangan buram mereka. coba mengingatnya. Namun hanya kilasan gerimis yang tertangkap jelas dalam ingatanku. ya! rintikan gerimis hujan seperti saat ini.
 Kukatakan kepada hatiku,.- Dear hatiku yang lemah : Apakah kau ingat saat hari tak pagi lagi, pula belum senja? Ingatkah dirimu Hari di mana hujan merangkak gerimis saat pagi membuai waktu yang kian  menjemput senja ? Ingatkah kau hari itu ?
Diberinya aku jawaban : Ya. Aku masih ingat. Hari itu Ibu bercerita kepadaku. Tentang kisah sedih susahnya , pilu, Duka , jerit tertahan anak kecil di tengah gulita, kisah tentang setiap bulir air mata, keringat, dan kisah tentang... Cintanya. Tapi tak banyak kisah pengantar  bahagia yang kudengar mampu teringat. Dan di sini. Di hatiku. hatiku sakit. Ia tidak benar-benar baik-baik saja karena lupa akan ceritanya.
Aku berjalan menuju serambi kamarku. silih-ganti tak berhenti merasakan sedih., sayat pilu di setiap ayunan langkahku. hingga saat ku tertatih dan tiba di tujuanku, kembali Kukatakan pada hatiku, pada hatiku  yang lemah: Aku tak pernah dengar cakap begitu manis di antara deras alur kisah sedih dan bahagia Ibuku. Dear hatiku yang lemah : Aku tak tahu dan tak ingat kisah bahagia yang pernah diceritakan Ibuku. Maukah kau menceritakannya padaku?
Dan dimulailah flashback alur cerita yang berputar-putar di otakku. Aku tetap tak mengingat meski serentetan bayangan buram terus menari-nari secara perlahan menguak satu memory cerita lama yang telah terpendam.
Aku ingat. Pagi itu gerimis,.. gerimis hingga cekungan-cekungan hujan membilas setiap rajutan debu di kaca luar jendela-jendela kamarku. Di hari yang sama, Ibu bercerita padaku.. betapa ia sangat bahagia akan kelahiranku. yah! aku ingat. Ibu bertutur sambil tersenyum lembut yang mampu hangatkan hinga ke dasar hatiku. Senyum simpul yang menyentuh hingga ke matanya.
Ia, Ibu bercerita..Sebelumnya, dia yang seorang wanita karir, mengalami perdebatan sengit dengan Ayah sesaat sebelum menikah. Tentu saja. Perdebatan ini dimenangkan oleh pihak wanita yang keras kepala -Ibu-. Ayah hanya menerimanya. menerima semua permintaan Ibu meskipun ia merasa sungguh, sangat sanggup untuk menghidupi Ibu walau tanpa Ibu yang ikut mencari nafkah sekalipun. Karena gaji yang diperoleh Ayah cukup besar, dan cukup untuk menghidupi Ibu bahkan dengan anak-anaknya nanti. Namun kenyataan di sisi lain  mampu jernihkan pikiran ayah bahwa Ibu adalah sosok yang begitu gemilang. Bakat dan Profesionalitas di bidangnya tak mampu diragukan, dan.. inilah mimpinya. Mimpi Ibu. Ayah tak mungkin menghancurkan mimpi itu sekejap saja. Maka Ayah mencoba menjadi seorang yang ikhlas dan menerima keinginan Ibu.-kekuatan cinta Ayah-.
Seperti di ujung dahan kita lihat tetesan hujan, menggemilang, jatuh sekejap. Sekejap itu pulalah Ibu melepaskan mimpinya sesaat setelah aku lahir dan Ibu menggendongku di dekapannya. Aku yang terbungkus rapat oleh selimut putih kecil tak tahu apa-apa. Saat aku menangis keras dalam sebuah kungkungan posesif , ibu yang terharu dan berkaca-kaca serta merta berkata bahwa mulai saat ini ia akan berhenti bekerja dan akan merawatku dengan tangannya sendiri. Suami-dan anaknya.-Momen bahagia Ibu-.
Itulah satu dari sekian cerita yang mampu teringat.
Kukatakan kepada hatiku : Kisah dari kasih kami, mengapa menyimpan serumpun resah, ? mengapa dalam nyata aku membawa hati-hati yang kosong, sementara bersama gema hati berdencing tawa cerita bahagia ? Dear hatiku yang lemah : Orang Tua bukan Ayah dan ibu -dahulu-. Ayah dan Ibu bukan orang tua -sekarang-, adalah mereka yang tak nampak berjalan di sampingku dan yang saat ini aku lupa. Orang Tuaku dahulu adalah mereka yang tenang-diam saat aku bicara. Ayah dan Ibu sekarang adalah Mereka yang penuh maaf saat jiwaku mendendam. Orang Tuaku adalah mereka yang berjalan menyongsong aku dari belakang, dan mereka yang memilih mati agar aku masih tetap berdiri. Aku yang sekarang, mengapa memiliki ayah dan ibu yang berbeda dengan orang tuaku dahulu?
Diberinya aku jawaban : Kau senang menduga hingga ke dasar hatimu. Aku,-hati- bukan anak-anak lagi. Kini pesan ayah-ibu adalah apa yang harus kuperjuangkan demi meniti hidup saat ini. Namun dirimu  berubah. Kau berbeda. Kau tak lagi sama. Aku diam! diam serupa laut mati! menyemai lesu hingga kalbuku. rintihan hatiku.. hanya bisa mengingat pedih di otakku, hatiku mungkin belum terlalu mati seiring kepergian orang tua kandungku, namun setiap detik-detik rasa itu kian mencekik. sering ku terkenang masa yang hilang ,namun justru aku tak ingat. Apa yang ingin dikenang ? Hanya bertanya kecil pada hati akan kenangan yang hilang. Meski Ayah dan Ibu mungkin menasihatiku, aku masih harus hidup. Hilangkan bayangan semu itu dan kuatkanlah hatimu yang tak lemah itu. Ini hanya masalah apa yang mampu dan tak mampu untuk kauterima dengan mata yang terbuka sebagai sebuah kenyataan.
Meski begitu, hingga setahun berlalu, aku hanya terbawa, ke sini, ke sana, tiada ubah daunan tua. ia gugur, mati tak bernyawa, dan menetap di satu tumpukan dedaunan tua bersama yang lainnya. Aku bertanya pada sang hati : Mungkinkah saatnya juga aku bergabung dengan mereka ? Diberinya aku jawaban : siapa? Orang tuamu yang telah lama mati ataukah Ayah dan Ibu sekarang yang masih hidup dan terus menyemangatimu menggantikan mereka yang sudah mati ?
Aku tersentak. Meski aku hanya tahu dari ayah dan Ibu bahwa Orang tua kandungku sudah tiada ,namun apa yang aku miliki sekarang adalah apa yang harusnyai kuperjuangkan . Meski Orang tua kandungku mungkin sudah tiada, meski aku tak ingat satu apapun tentang mereka, Aku masih punya Ayah dan Ibu yang mau membagi kisah-kisah baru mereka denganku. meski mungkin tak akan sama, aku yakin bahwa inilah yang diniatkan orangtuaku untuk kebaikan hidupku.
Aku tersadar dari lamanya waktu yang telah kuhabiskan dalam penjara memori sepi ini. Saat aku mulai bisa menerima, Gerimis, dan hati yang sejujurnya kuat adalah saksi kebangkitanku yang baru. Dan tanpa sadar, pandangku, walau hinggap-hinggap melintas, tak luput dari wajah-wajah mereka. tersenyum sendu padaku yang menyentuh hingga ke matanya. Ku katakan kepada hatiku : Dear hatiku : kau tak lagi lemah...
Saat lembar baru mulai kubuka, tak kusangka Ayah dan Ibuku -sekarang- datang menyapaku di serambi kamar, tersenyum lembut padaku mengiringi senyum mereka.. menjemput senyum baru diwajahku....
Dan saat cerita ini berakhir, masih kudengar rintikan gerimis hujan di luar. Bunyinya lain kedengaran...



Kamis, 25 September 2014

_______ . . ________


Dia siapa ? saat kutemui, kudapati dirinya hidup bagai di alam bawah sadar. Dia mengatakan  alam  adalah istana yang pilar-pilarnya berhuni jiwa suci .Bahkan Kokoh pilarnya berbisik bagai lantunan puisi yang menggaungkan bebal kata yang tak sempat terucap dari bibir tipisnya. Yang menyuguhkan pandangan nyata akan eksotika sebuah rumah sebagaimana harusnya. Tapi aku tak paham apa yang  dimaksudkannya. saat ia berbicara, mataku hanya terpaku pada bibirnya, ya.. bibirnya yang pecah dan matanya yang kian memerah seolah di sana ada beban berat yang penuh luka dan duka bahkan terlampau berat untuk ditangggungnya.

Sendirian.., ya. karena ia menyadari dirinya adalah sebuah anomali yang meniadakan kata-kata hingga merasa perlu untuk menjuhkan dirinya. Ia tak mampu mengatakan apa dan bagaimana dirinya. karena ia begitu  menyadari bahwa dirinya adalah wujud anomali yang nyata. Ini adalah pernyataan yang semu tentang dirinya

Ketika aku mengamatinya, seribu nuansa abu-abu terpancar kelam dari balik bola matanya yang memantulkan bayang bagai kolam tinta hitam legam. Dirinya hanya menatap. dan tanpa apa-apa. tidak serumpun kata, pun tidak secuil ekspresi nampak dari wajahnya bahkan tak kutemui sedikitpun gesture dari tubuhnya yang mampu gambarkan hal apa yang sedang menari-nari di kepalanya.

Di lain kesempatan, aku bahkan menemukan dirinya tersenyum hingga menyentuh ke dasar wajahnya dan matanya memancarkan kilau bening yang bercahaya. Sungguh mempesona!

kadang hatinya bingung, kadang aku mendapati dirinya tersenyum dan tertawa dalam euforia kegembiraan yang tak mampu digambarkan. kadangkala aku bahkan tak mendapati ekspresi apa-apa dari dirinya. hanya datar dan... tak ada. tak ada sama sekali. ketika aku mendapati dirinya mampu mengungkapan diri dalam sejuta ekspresi bahagia, ia justru menangis tersedu-sedu dengan air mata yang mengalir di setiap pori-pori pipi chubby miliknya.

Suara tersedunya bagai gema-gema panjang dalam keheningan malam di kejauhan.  Gema suara tertawanya mengirimkan hembusan angin sepoi yang membuatku mampu berjingkat karenanya. Kediamannya serupa Laut Mati! Dan emosinya yang tak nampak hanyutkanku sejenak dalam rasa menggigil yang menggigit hinga ke tulang-tulang.

Aku bertanya- tanya. Apakah yang menyebabkan sosok itu berdiri Dingin dan Hangat dalam satu waktu bagai sebuah anomali ?. Dirinya tak mampu kutebak. bahkan untuk berdiri menatap wajahnya, atau ikut terlarut bersamanya membagi rasa pun terasa canggung bagiku. Aku bagai meraba-raba dalam gulita di wajahnya yang tanpa ekspresi. Tapi sorot matanya yang bagai manik cahaya menarik ku terperosok untuk terus peduli padanya. Tapi Aku bukan siapa- siapa. Dia Siapa? mengapa aku begitu peduli padanya?

Meluruskan pikiran-pikiran unik yang bergentayangan dalam otakku bukanlah hal mudah. Sekadar memaksa lobus frontal-ku pun hanya akan menjadi bumerang. Terkadang aku menimbulkan satu bayangan buram hingga terasa sulit menerima pemikiran yang tak sesuai dengan hati dan keinginanku. Sosok anomali itu begitu rapuh hingga terdorong oleh seujung kuku pun kurasa ia akan terjatuh.

Bulan yang lesu mencoba hentikan mimpi yang sempat menawan rohku hingga aku bagai jasad bertulang yang terbujur kaku tanpa Jiwa. 

Dan ketika aku tiba-tiba tersentak dan terbangun dari tidur dan mimpiku di tengah malam dalam kebingungan yang meresap dalam setiap jelujur nafasku yang terengah, aku menyadari. Dirinya adalah Aku !!

AKU!! 

Mimpi itu telah berlalu. Dan saat hari telah dimulai, dimana Oktober membuai September yang tersesat karena coba merangkak menggapa-gapainya dalam cuaca panas yang membalut kota dengan selimut surya yang kian menyengat. Hari-hari kujalani dengan membawa serentetan rekaman mimpi yang meraung-raung di kepalaku. Mengapa aku merasa bagai sebuah anomali bahkan dalam mimpiku sendiri ? Aku kah anomali itu ? mengapa aku bisa seperti itu ? apa yang terjadi? aku ini kenapa?


Hanya diam dan membisu yang dapat terus kulakukan. saat bulan , hari. jam, menit dan detik terus menggulirkan estafetnya yang menyertai kediam-an ku. Aku terus memikirkannya, beberapa hari dalam sebulan, dalam seminggu hingga sekarang aku terus memikirkannya disetiap detik-detik waktu yang kumiliki. Aku bingung layaknya seorang yang autis. ya.. kebingungan.Ia meresap dalam setiap hentakan nafasku. menghapus kehidupan dari relung jiwaku, memotong hati, endapan rasa dan menghempasku dari titian jembatan tinggi hari-hari bahagiaku. Aku bingung.

Apakah cerita semu ini berakhir di sini ? ya!. Dirinya dan sosok dalam mimpi itu adalah satu jiwa yang berbeda namun menuju ke titik yang sama. Aku dan diriku adalah sosok normal yang karena sebuah mimpi aneh,   justru menggiringku perlahan-lahan ke arah mimpi itu karena terlalu banyak memikirkannya. Dan tanpa kusadari, sikapku inilah yang membawaku ke arah anomali itu. 

..............
Meski sekarang waktu telah lama berlalu, dan diriku bukanlah aku yang dulu namun aku adalah diriku yang sekarang, aku tetap menjalaninya.Dan.. biarlah aku membawa serta kebingungan ini hingga suatu waktu kan lebur bagai hujan deras, dan damai pun kudapat..

#End




Sabtu, 09 Agustus 2014

Beauty and The Beast..

 
 Pagi menjelang. Adik- adikku tersayang sejak 15 menit lalu bahkan telah stand by seperti biasa di depan kotak magic persegi empat 17 inci yang menampilkan pemandangan warna-warni dari kisah cinta penuh doktrin, ilusi dan tipu daya berjudul Beauty and The Beast. sungguh sempurna. Ketika Disneyland menyuguhkan adegan panjang penuh musik, gaun dan pesta dansa antara si cantik dan buruk rupa, disinilah aku. Menatap datar kedua adik perempuanku dengan wajah mereka yang tercengang penuh pesona seolah hal-hal seperti itu nyata. 
 
Aku mencoba berpikir keras dan memahami cerita di balik gambar yang ada. Si cantik  muda yang hidup sederhana, periang, cerdas dan dicintai banyak orang adalah kembang desa di tempat tinggalnya. Kemudian di belahan lain desa, seorang pangeran dengan watak bertentangan dengan si cantik,  hidup mewah melimpah dengan berbagai kekuasaan dan kekuatan bertengger manis di sekelilingnya hingga keburukan sikapnya menjadikan dirinya diberikan kutukan oleh sang penyihir hingga seluruh isi istana pun terkena imbasnya. 
 
Lalu mengapaaa???   mengapa sang pangeran diberi kutukan menjadi seekor binatang buas yang buruk rupa sementara para pelayannya berubah menjadi benda-benda mati yang dalam kasus ini mereka dapat berbicara seolah-olah mereka benda hidup? mengapa mereka juga tidak berubah menjadi binatang saja? mengapa anjing peliharaan istana yang pada dasarnya sudah binatang, juga berubah menjadi benda mati yang hidup? Binatang adalah makhluk rendah. Akan tetapi, binatang yang berubah menjadi benda mati di kategorikan apa? apakah dikategorikan makhluk hina? entahlah -___-"?

Annisa, adik terkecilku menoleh dan bertanya padaku dengan mata yang berbinar penuh harap. Dan aku tahu satu hal! aku tidak akan mampu menghindari pertanyaan  ini. 
"Kakak, apakah suatu hari nanti aku bisa bertemu pangeran, menikah dan hidup bahagia di istana seperti Belle?"
Aku cengo. Melongo dengan kebingungan yang luar biasa menghantam keras isi otakku untuk mencari jawaban atas pertanyaan ini. Aku benar- benar harus memberitahu Ibuku setelah ini bahwa Disney adalah sebuah omong kosong. meyakinkannya bahwa anak- anak tidak akan menjadi dewasa dan bangun dari mimpinya  untuk mengejar cita-cita yang realistis dibanding hanya duduk membayangkan mimpi-mimpi hidup dengan pangeran tampan. 

Aku tersentak, menyadari mata bulat besar itu masih menatapku berharap untuk segera memberi jawaban. Apa-apaan ini! aku tidak mungkin lebih membohonginya lagi dengan mengatakan dukungan untuk semua cerita omong kosong itu. Tapi aku juga tidak bisa merusak imajinasinya yang sedang berkembang itu karena aku yakin imajinasi adalah awal dari jiwa kreatif setiap orang. Oh ayolah! Aku harus menjawab apa??
"Well, mungkin kau harus mencoba mencari cita-cita lain dibanding menjadi seorang putri karena kau tak pandai berdansa.."
"Benarkah? Ibu berkata aku bisa mempelajarinya karena itu tidak sulit melakukannya  jika kita memiliki kemauan belajar yang keras.." dan Skak!! jawaban macam apa itu? apakah aku baru saja mendengar sesuatu keluar dari bibir kecil anak usia lima tahun? Dan apa pula itu! Oh Ibu! terima kasih. Nasihat bijakmu sungguh memberi kontribusi besar terhadap penderitaanku.

"hmmm.. mari kita lihat. mungkin kau bisa menanyakannya kepada Ibu dan kita bisa mencari cita-cita lain yang lebih bagus untukmu dan bahkan mungkin bisa memberikan banyak uang untukmu dibanding hanya menikahi seorang pangeran buruk rupa meskipun dia sangat kaya raya.."
 
Dia berteriak. Meneriakkan kata Ibu dan bertanya.. "Ibu, apakah suatu hari nanti aku bisa bertemu pangeran, menikah dan hidup bahagia di istana seperti Belle?" Ibu mencondongkan setengah badannya dan tersenyum simpul kepada adikku sambil berkata "Tentu sayang!! jadilah apapun yang kau inginkan.. :) ".. 

Well, sudah cukup!! aku keluar dari semua omong kosong ini !Aku mengambil beberapa langkah  dan beberapa waktu lagi untuk mengistirahatkan diriku di ranjang kamar. Berpikir sejenak sebelum berlalu ke kamar mandi. "huhh.. mungkin aku harus membiarkan semua ini berjalan apa adnya saja.."
 
Dan begitulah sunday morningku berawal oleh sebuah Beauty and The Beast..

Aku dan Malam Dangdutan -___-"!

 
Sembilan Agustus Dua Ribu Empat Belas, tepat pukul sepuluh malam, tetangga yang berada strategis di sebelah kiri rumahku mendentumkan musik dangdut yang terdengar tak jelas di telingaku. tettedet, tettedut, tettedet, tettedut.. suling, gendang, keyboard, saling berganti dan beradu dengan suara parau sang vokalis yang samar-samar terdengar ditelingaku, tertutupi oleh musiknya yang berdentang keras memukul gendang telingaku. Bulan tidak muncul, sesaat kupikir "bahkan bulanpun tertekan oleh dangdutan tengah malam mereka". ohh tetanggaku yang manis!! tidakkah muncul sedikit nurani dalam hatimu untuk memberi beberapa jam lebih bagi kami yang kelelahan ini? bahkan setelah sembilan jam lima belas menit waktu yang kami habiskan di luar rumah demi sesuap nasi dan kami bahkan tak mampu beristirahat di rumah kami yang sederhana ini? ohh!! demi Tuhan!! betapa teganya dirimu dan dangdutanmu!!

Sesaat musik padam. pun tak ada selinting cetusan suara. hanya kedip-kedip hujan yang tersembunyi dan pergolakan jangkrik yang tiba-tiba menghentikan dentuman, dan Me Voila!!!, kamipun beralih ke dunia yang.. tenang. sejenak, tetanggaku, sejenak--- diamlah, O hatiku lengang, musik senyap dan akupun turun mau istirahat dalam buai mimpi, bahkan diam dan pelan terdengar gerimis turun dari langit pekat. ohh!! manisnya ..

Tujuh menit empat puluh sembilan detik waktu yang kubutuhkan sebelum dentuman berskala richter mengguncang mimpiku hingga sesaat kukira terjadi tsunami. DDTUT, TTETTEDET, TTETTEDUT, kembali, mereka kembali. kemana perginya suara jangkrik yang mewakili malam tenangku? kemana perginya gerimis yang beberapa saat lalu terdengar ditelingaku? mengapa daun telingaku hanya menangkap suara-suara perusak gendang telinga yang terus berdentung menyerang telingaku bertubi-tubi laksana sebuah teror mengerikan? mengapa ini terjadi? oh ya Allah!! aku butuh istirahat. kami butuh istirahat. benar-benar butuh!!

Bantal, sumpal telinga, headset bahkan apapun yang kulakukan dengan benda-benda itu tak mampu menghalaunya. suara-suara itu benar-benar keterlaluan. mereka, tetanggaku dan selera dangdutnya butuh direhabilitasi. pupuslah angan-anganku akan istirahat yang menyenangkan. lenyap bagai tipuan manis bagiku. kali ini mereka memutar lagu yang kurasa cukup populer minggu ini karena lagu ini bahkan terdengar setiap hari hampir dua minggu ini saat aku menaiki angkutan umum ke kampusku. Meski begitu, ini sangat berdentum, mengoyak setiap sendi dan otot dalam jantungku jika ada. Bravo tetanggaku yang manis!! caramu merusak malamku benar-benar berhasil sadar atau tanpa kausadari. 

Pukul dua belas tiga puluh tiga menit musik berhenti. harapan baru muncul dalam hatiku. berharap ini bukan sekadar khayalan atau emosi sesaat yang mengaburkan kesadaranku. atau mungkin gendang telingaku sudah benar-benar terganggu sehingga tak bisa mendengar apapun? entahlah, kuharap bukan alasan yang terakhir. tapi, ini nyata. setelah menunggu sepuluh menit mendebarkan di malam panjangku akhirnya sang manis menunjukkan nuraninya membiarkanku bertegur sapa dengan kebahagiaanku saat ini; kasur dan bantal. sang jangkrik kembali, gerimis pelan menyapa indera pendengarku menghantarkanku kembali ke rinai mimpi yang sempat tertunda. terima kasih ya Allah!! penderitaan untuk malam ini telah berakhir.. selamat tidur dan jangan lupa berdoa..

Terlambat bangun dan tebaklah hal pertama yang kutemui di pagi yang mungkin tak akan lebih buruk lagi dari ini. lagu dangdut itu menjadi pengantar saat setiap kelopak mataku mengayun untuk membuka di detik- detik waktu yang silih berganti dengan lirik ; "cintai aku karena Allah, sayangi aku karena Allah,.. " bukan lagu pop, nasyid ataupun tausiah islami, DANGDUT!! dipagi hari, lagi!!

Sabtu, 14 Desember 2013

Tarian Hujan

Angin di awal Desember adalah simfoni suara musik Beethoven yang mengalunkan nada Moonlight Sonata. Di suatu tempat yang tinggi di atas sana, hujan turun membasahi rimbunan pohon hijau yang bergerak tertiup angin, berderik, menepuk dan bersenandung seperti ratusan alat musik orkestra.


Dan hujan yang terbentuk di atas samudera nusantara yang biru, menari-nari turun menembus jarak yang membentang dan meresap ke dalam hati-hati manusia yang rapuh.

Aku menjemput fajar dengan siluet oranye dan garis-garis tegas awan yang membelah langit yang nampak muram. Lagi, hari ini mungkin takkan kutemukan hangatnya udara dimusim panas, namun pelangi yang muncul setelah kilasan hujan mampu mengobati rinduku pada sang surya. Dalam gemuruh hujan yang lebat, dalam sedu sedan seluruh manusia, pada mukanya musim hujan, aku menafaskan abu-abu perak dari mimpi-mimpiku. Hujan, bisakah aku menjalani hariku ini dengan baik? setelah tiga hari kemunculanmu, setiap pagi aku mengintip, dan berbisik kecil pada hati, apakah kau masih melihat surya bergumul dengan awan hari ini ? sayangnya, jawaban kecut kembali kudengar. Kami kembali dipisah oleh impian lembut bercampur manis - hujan-.


 Aku yang hendak melangkah kembali mengurungkan niatku. Bercerita kecil kepada sepi, mungkin hari ini aku akan tetap di sini, tidak kemanapun dan tidak mencari siapapun ; tidak kawan, tidak lawan, tidak diri sendiri. Wahai teman sepiku yang akrab, kita berjalan bagai suatu pasangan yang tersesat dalam buaian hujan hingga kilat dan guntur pun saling menyahut mengakrabkan kegila-gilaan. Dengan kondisi yang menyedihkan, aku berjalan gontai ke kamar hingga tergeletak manja di atas ubin licin nan dingin yang membiaskan hujan yang terus menerus menari di mata dan pikiranku. Pagi panjang itu berakhir dengan satu siluet senja yang perlahan bangkit di antara pepohonan sementara di udara, bau tanah basah masih menyerbak dan berkembang ; satu- satunya sisi yang kusukai dari hujan, adalah tatkala ia membasahi bumi hingga menyeruakkan bau tanah basah membawa kenangan dan ketenangan pribadi di jiwa.


 Hujan....

Ini baru tiga hari berlalu sejak kau menari- nari dalam hariku, tetapi aku bahkan sudah jengah dengan keberadaanmu. Tak seperti orang lain yang sangat mengagumi dengan alasan yang tak logis bagi pikiranku ; kau membawa angin yang akan menerbangkan rasa sakit dan menghapus air mata yang mengalir bersama guyuranmu yang nampak murni dan tulus. Tapi aku membencimu ! Aku membenci hujan ! Aku membenci kelabu yang seolah- olah menyampaikan pesan tersirat kedatanganmu. Hari tenteram, kelabu datang , udara panas-panas-dingin dan kaupun datang. Hujan turun menari- nari pelan dan bisu, dan selagi aku bisa meneguk tangis dan mengeluh dengan suara yang pilu, hujan dan angin yang bertiup di pepohonan, melulung dan mengeluh demikian aneh dengan bunyi hampa dan perih.

Hujan, berhentilah menari- nari di hariku, Aku Membencimu !