Powered By Blogger

Sabtu, 11 Oktober 2014

Dalam Tawanan Gerimis


Bayangan buram, menggilas pikiranku. Hancurkan hati bagai batu, dengan air yang menyapu selembut bulu. Bukan oleh air hujan atau gerimis seperti yang di turunkan langit saat ini , pun bukan oleh  air kran yang ada di westafel rumahku. Tapi oleh air mata yang senantiasa keluarkan dukanya saat aku meratap pilu oleh bayangan buram mereka. coba mengingatnya. Namun hanya kilasan gerimis yang tertangkap jelas dalam ingatanku. ya! rintikan gerimis hujan seperti saat ini.
 Kukatakan kepada hatiku,.- Dear hatiku yang lemah : Apakah kau ingat saat hari tak pagi lagi, pula belum senja? Ingatkah dirimu Hari di mana hujan merangkak gerimis saat pagi membuai waktu yang kian  menjemput senja ? Ingatkah kau hari itu ?
Diberinya aku jawaban : Ya. Aku masih ingat. Hari itu Ibu bercerita kepadaku. Tentang kisah sedih susahnya , pilu, Duka , jerit tertahan anak kecil di tengah gulita, kisah tentang setiap bulir air mata, keringat, dan kisah tentang... Cintanya. Tapi tak banyak kisah pengantar  bahagia yang kudengar mampu teringat. Dan di sini. Di hatiku. hatiku sakit. Ia tidak benar-benar baik-baik saja karena lupa akan ceritanya.
Aku berjalan menuju serambi kamarku. silih-ganti tak berhenti merasakan sedih., sayat pilu di setiap ayunan langkahku. hingga saat ku tertatih dan tiba di tujuanku, kembali Kukatakan pada hatiku, pada hatiku  yang lemah: Aku tak pernah dengar cakap begitu manis di antara deras alur kisah sedih dan bahagia Ibuku. Dear hatiku yang lemah : Aku tak tahu dan tak ingat kisah bahagia yang pernah diceritakan Ibuku. Maukah kau menceritakannya padaku?
Dan dimulailah flashback alur cerita yang berputar-putar di otakku. Aku tetap tak mengingat meski serentetan bayangan buram terus menari-nari secara perlahan menguak satu memory cerita lama yang telah terpendam.
Aku ingat. Pagi itu gerimis,.. gerimis hingga cekungan-cekungan hujan membilas setiap rajutan debu di kaca luar jendela-jendela kamarku. Di hari yang sama, Ibu bercerita padaku.. betapa ia sangat bahagia akan kelahiranku. yah! aku ingat. Ibu bertutur sambil tersenyum lembut yang mampu hangatkan hinga ke dasar hatiku. Senyum simpul yang menyentuh hingga ke matanya.
Ia, Ibu bercerita..Sebelumnya, dia yang seorang wanita karir, mengalami perdebatan sengit dengan Ayah sesaat sebelum menikah. Tentu saja. Perdebatan ini dimenangkan oleh pihak wanita yang keras kepala -Ibu-. Ayah hanya menerimanya. menerima semua permintaan Ibu meskipun ia merasa sungguh, sangat sanggup untuk menghidupi Ibu walau tanpa Ibu yang ikut mencari nafkah sekalipun. Karena gaji yang diperoleh Ayah cukup besar, dan cukup untuk menghidupi Ibu bahkan dengan anak-anaknya nanti. Namun kenyataan di sisi lain  mampu jernihkan pikiran ayah bahwa Ibu adalah sosok yang begitu gemilang. Bakat dan Profesionalitas di bidangnya tak mampu diragukan, dan.. inilah mimpinya. Mimpi Ibu. Ayah tak mungkin menghancurkan mimpi itu sekejap saja. Maka Ayah mencoba menjadi seorang yang ikhlas dan menerima keinginan Ibu.-kekuatan cinta Ayah-.
Seperti di ujung dahan kita lihat tetesan hujan, menggemilang, jatuh sekejap. Sekejap itu pulalah Ibu melepaskan mimpinya sesaat setelah aku lahir dan Ibu menggendongku di dekapannya. Aku yang terbungkus rapat oleh selimut putih kecil tak tahu apa-apa. Saat aku menangis keras dalam sebuah kungkungan posesif , ibu yang terharu dan berkaca-kaca serta merta berkata bahwa mulai saat ini ia akan berhenti bekerja dan akan merawatku dengan tangannya sendiri. Suami-dan anaknya.-Momen bahagia Ibu-.
Itulah satu dari sekian cerita yang mampu teringat.
Kukatakan kepada hatiku : Kisah dari kasih kami, mengapa menyimpan serumpun resah, ? mengapa dalam nyata aku membawa hati-hati yang kosong, sementara bersama gema hati berdencing tawa cerita bahagia ? Dear hatiku yang lemah : Orang Tua bukan Ayah dan ibu -dahulu-. Ayah dan Ibu bukan orang tua -sekarang-, adalah mereka yang tak nampak berjalan di sampingku dan yang saat ini aku lupa. Orang Tuaku dahulu adalah mereka yang tenang-diam saat aku bicara. Ayah dan Ibu sekarang adalah Mereka yang penuh maaf saat jiwaku mendendam. Orang Tuaku adalah mereka yang berjalan menyongsong aku dari belakang, dan mereka yang memilih mati agar aku masih tetap berdiri. Aku yang sekarang, mengapa memiliki ayah dan ibu yang berbeda dengan orang tuaku dahulu?
Diberinya aku jawaban : Kau senang menduga hingga ke dasar hatimu. Aku,-hati- bukan anak-anak lagi. Kini pesan ayah-ibu adalah apa yang harus kuperjuangkan demi meniti hidup saat ini. Namun dirimu  berubah. Kau berbeda. Kau tak lagi sama. Aku diam! diam serupa laut mati! menyemai lesu hingga kalbuku. rintihan hatiku.. hanya bisa mengingat pedih di otakku, hatiku mungkin belum terlalu mati seiring kepergian orang tua kandungku, namun setiap detik-detik rasa itu kian mencekik. sering ku terkenang masa yang hilang ,namun justru aku tak ingat. Apa yang ingin dikenang ? Hanya bertanya kecil pada hati akan kenangan yang hilang. Meski Ayah dan Ibu mungkin menasihatiku, aku masih harus hidup. Hilangkan bayangan semu itu dan kuatkanlah hatimu yang tak lemah itu. Ini hanya masalah apa yang mampu dan tak mampu untuk kauterima dengan mata yang terbuka sebagai sebuah kenyataan.
Meski begitu, hingga setahun berlalu, aku hanya terbawa, ke sini, ke sana, tiada ubah daunan tua. ia gugur, mati tak bernyawa, dan menetap di satu tumpukan dedaunan tua bersama yang lainnya. Aku bertanya pada sang hati : Mungkinkah saatnya juga aku bergabung dengan mereka ? Diberinya aku jawaban : siapa? Orang tuamu yang telah lama mati ataukah Ayah dan Ibu sekarang yang masih hidup dan terus menyemangatimu menggantikan mereka yang sudah mati ?
Aku tersentak. Meski aku hanya tahu dari ayah dan Ibu bahwa Orang tua kandungku sudah tiada ,namun apa yang aku miliki sekarang adalah apa yang harusnyai kuperjuangkan . Meski Orang tua kandungku mungkin sudah tiada, meski aku tak ingat satu apapun tentang mereka, Aku masih punya Ayah dan Ibu yang mau membagi kisah-kisah baru mereka denganku. meski mungkin tak akan sama, aku yakin bahwa inilah yang diniatkan orangtuaku untuk kebaikan hidupku.
Aku tersadar dari lamanya waktu yang telah kuhabiskan dalam penjara memori sepi ini. Saat aku mulai bisa menerima, Gerimis, dan hati yang sejujurnya kuat adalah saksi kebangkitanku yang baru. Dan tanpa sadar, pandangku, walau hinggap-hinggap melintas, tak luput dari wajah-wajah mereka. tersenyum sendu padaku yang menyentuh hingga ke matanya. Ku katakan kepada hatiku : Dear hatiku : kau tak lagi lemah...
Saat lembar baru mulai kubuka, tak kusangka Ayah dan Ibuku -sekarang- datang menyapaku di serambi kamar, tersenyum lembut padaku mengiringi senyum mereka.. menjemput senyum baru diwajahku....
Dan saat cerita ini berakhir, masih kudengar rintikan gerimis hujan di luar. Bunyinya lain kedengaran...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar